Sabtu, 28 November 2009

Orang Tua Sibuk Bekerja, Si Kecil Aman Bersama Siapa ?

Jika kedua orang tua sibuk berkarier, si kecil biasanya ‘diamankan’. Entah bersama nenek kakeknya, saudara, pembantu, baby sitter, atau pun dikirim ke tempat penitipan. Semua pilihan tentu ada untung ruginya.

Meninggalkan si kecil bersama baby sitter saat bekerja, bukan persoalan gampang. Mengajak si kecil ikut serta ke tempat bekerja, salah-salah bikin pekerjaan runyam. Bagi pasangan berkarir ganda, kebutuhan jasa pengasuh anak cukup tinggi. Ini sulit dihindari, mengingat lamanya jam kerja orangtua yang mungkin bisa lebih dari 10 jam setiap hari.

Untuk mempercayakan pengasuhan dan perawatan si kecil pada orang lain perlu pertimbangan yang matang. Tak sedikit kabar bahwa anak ‘dihajar’ pengasuhnya dengan berbagai alasan. Karakter manusia, termasuk pembantu memang kadang susah ditebak. Namun, andai orang tua jeli memilih ‘partner’ si kecil, tentunya penganiayaan atau kecerobohan tidak akan terjadi.

“Faktor pengasuh sangat menentukan perkembangan anak. Untuk itu, orangtua yang memiliki baby dan menghabiskan banyak waktu di luar rumah untuk berkarir, sebaiknya pilih pengasuh yang bisa dipercaya,” terang Agnes Maria Sumargi MPsych, psikolog lulusan University of Western Australia dan Universitas Airlangga ini.

Menurut Agnes, pengasuh bisa berasal dari kalangan keluarga sendiri atau orang lain yang diambilkan dari penyalur jasa baby sitter. “Meski diasuh orangtua atau nenek si baby, orangtua sebaiknya masih tetap memonitor. Apalagi bila diasuh baby sitter. Ini mengingat sekarang makin sulit mendapat baby sitter yang bisa dipercaya,” ujar dosen Psikologi Universitas Widya Mandala (UWM) Surabaya.

Memonitor si kecil, misalnya bisa dilakukan dengan mengadakan inspeksi mendadak ke rumah. Dengan demikian akan diketahui bagaimana sesungguhnya baby sitter merawat si kecil. Pada beberapa kasus yang ditemui, faktor kebersihan yang paling kurang diperhatikan. “Misalnya, ditinggal menonton televisi saat si kecil ngompol, atau saat makan tidak diberi celemek dan dibiarkan belepotan,” terangnya.

Bayi mulai usia 6-7 bulan, lanjut Agnes, umumnya sudah bisa mengenali orang-orang di sekelilingnya terutama orang yang kerap mengasuhnya. Karena itu, penting bagi orangtua untuk bisa memperkuat ikatan batin dengan anak. Bayi mulai usia 6-7 bulan pun bisa pilih-pilih kalau digendong. Bila orangtua jarang memperhatikan, bisa-bisa si kecil malah tak kenal orangtuanya dan menjadi ‘anak’ baby sitter. ame

Layanan TPA Pengasuhan

Orangtua hendak terjun langsung untuk mendapat pengasuh atau tempat penitipan yang tepat. Untuk menitipkan anak saat orangtua bekerja, Agnes membeberkan serangkaian pilihan.
Pertama, bila yakin menggunakan jasa baby sitter, pilihlah penyedia jasa baby sitter dengan mengumpulkan informasi selengkap-lengkapnya. Misalnya latarbelakang yang jelas terkait baby sitter tersebut.
Beberapa baby sitter berangkat dari pembantu rumah tangga yang sejatinya tidak memiliki kemampuan memadai soal perawatan bayi dan anak-anak. Selanjutnya, berikan masa percobaan pada baby sitter tersebut kira-kira selama dua minggu hingga satu bulan. Amati secara intensif. Jangan sampai ketika orangtua pulang mendapati tubuh si kecil lebam dan kotor, atau bahkan si kecil mulai menyambut Anda dengan kata-kata kotor.

Kedua, memilih jasa pembantu rumah tangga pada umumnya relatif lebih murah daripada baby sitter, juga tidak salah asalkan majikan menyediakan waktu untuk telaten mengarahkan dan mendidiknya untuk urusan perawatan si kecil.
“Yang perlu diperhatikan juga perilaku si pembantu maupun baby sitter tersebut. Waspadalah bila ia memiliki kebiasaan buruk atau perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang diadopsi si majikan selama ini,” katanya. Buatlah catatan berisi hal-hal yang harus dilakukan pembantu sebagai pedoman agar dia merawat si kecil sesuai keinginan Anda.

Ketiga, menitipkan si kecil pada tempat penitipan anak (TPA). “Sudah banyak TPA yang cukup berkualitas di kota-kota besar, kalau memungkinkan pilihlah TPA yang disediakan perusahaan tempat si orangtua bekerja atau berdekatan dengan tempat kerjanya. Jadi pengawasannya tidak terlalu jauh,” sambungnya.
Tak kalah penting perlu diperhatikan dalam memilih TPA, yakni kualifikasi pengasuh, dan rasio antara pengasuh : jumlah anak.
Apabila terlalu banyak bayi atau anak-anak yang dititipkan, sementara jumlah pengasuh terbatas maka sebaiknya pilih TPA lain yang lebih bisa memfokuskan pengasuhan. “Rasio pengasuh dengan bayi, maksimal 1:2. TPA yang bagus, satu pengasuh hanya mengasuh dua bayi.
Beda dengan pengasuh usia anak-anak di atas dua tahun, rasionya bisa mencapai 1:6,” terang Agnes. Ini mengingat pada usia di bawah dua tahun, bayi rentan sakit apabila tidak diberikan perawatan khusus.

Keempat, menitipkan si kecil pada nenek, boleh menjadi pilihan meski pengasuhan terkadang belum tentu efektif. “Dititipkan pada nenek si kecil, dari segi keamanan mungkin bisa menjadi jaminan. Orangtua bisa bekerja tenang. Namun, adakalanya pengasuhan tak selalu efektif. Tak jarang nenek-kakek memiliki perbedaan nilai dalam membesarkan cucunya, misalnya terlalu memanjakan,” ujarnya. ame

0 komentar: