Sabtu, 28 November 2009

Mendampingi Saudara Sekandung Autis

Foto: Corbis

HIDUP dengan saudara kandung yang mengalami gangguan autistik membuahkan kesan tersendiri. Pengertian dan kesabaran ekstra diperlukan dalam memahami saudara berkebutuhan khusus ini.

"Saya Nikita, adik kandung dari Oscar, seorang penyandang autis. Usia kami hanya terpaut setahun. Hobi kami sama, sama-sama suka sepak bola. Jadi kalau ngobrolseharusnya bisa nyambung, tapi terkadang Oscar suka berlagak lupa."

Itulah penuturan Nikita, pria berusia 28 tahun asal Jakarta yang sejak kecil hidup dan tumbuh bersama Oscar, kakak lelakinya yang mengalami gangguan autistik atau kerap disebut autis saja.

Dalam acara Autism & Friends yang diselenggarakan Stikom The London School Public Relations (LSPR) di Exhibition Hall Senayan City Jakarta, akhir pekan lalu, Nikita mengungkapkan suka-dukanya hidup berdampingan dengan sang kakak yang usianya setahun lebih tua itu.

Awalnya, Nikita kecil tidak tahu apa yang terjadi dengan kakaknya. Sewaktu umur 7 tahun, orangtua memberi tahu Nikita bahwa kakaknya autis. Namun, Nikita tidak paham dan hanya tahu bahwa sang kakak "berbeda" dengan orang lain.

"Kalau teman-teman sebaya lain kan biasanya suka pamer: 'kakakku bisa begini, kakakku bisa begitu'. Nah sayangnya kakak saya enggak bisa ngapa-ngapain, bisanya ngomong sendiri," kenang Nikita yang sejak playgroup sampai SMA selalu satu sekolah dengan kakaknya.

"Bahkan, waktu SD kami selalu sekelas. Penyebabnya, Oscar telat masuk SD," imbuhnya.

Sebagai seorang adik, tentu dia mendamba sosok kakak yang bisa membimbing dan melindunginya. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Nikita lah yang selalu menjadi "pahlawan" bagi Oscar.

Misalnya, sewaktu SD Nikita hampir berkelahi gara-gara membela Oscar yang diganggu kakak kelasnya. Selama SD, keinginan Nikita untuk bermain juga agak terbatasi karena harus membantu menjaga sang kakak. Namun, dia mengaku ikhlas.

"Sebabnya enggak tahu kenapa, mungkin karena saya sayang, jadi enggak perlu tahu alasannya. Ya pokoknya sayang aja," tukasnya.

Menginjak SMP, sikap bullying seperti kasak-kusuk omongan tidak sedap dari teman-teman sekolah yang hanya bisa menghakimi daripada mengasihi, tak urung membuat telinga panas. Malu, aneh, dan rasa diperlakukan tidak adil sempat menyergap masa remaja Nikita.

"Syukurlah waktu SMP kelas 2 saya sudah tahu kebenaran bahwa kakak saya seperti itu, sebagai paket yang diberikan Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setelah saya memahami, jadinya kalau orang ngomongin pun enggak masalah," beber Nikita.

Bullying memang sering terjadi pada anak autis di sekolah dasar dan menengah, yang mana hal ini sebenarnya dapat dicegah dengan melatih kemampuan berteman dan bergaul pada usia yang lebih dini. Namun, kemampuan berkomunikasi sebagai dasar bersosialisasi harus dikembangkan dulu.

Hal tersebut tentu membutuhkan usaha yang kontinu dan kesabaran. Pada tahap awal misalnya, penyandang autis bisa menunjukkan gejala kesulitan berbicara, penyendiri, dan suka melakukan tindakan yang sama berulang-ulang.

Menurut pengalaman Nikita, sang kakak juga cenderung cuek atau mengusulkan pemecahan masalah yang "tidak nyambung" dengan konteks masalah yang sedang dibicarakan. Setiap kali mau berantem atau mau melangkah ke adu fisik, dia (Oscar) mencetuskan jalan keluar yang "beda". Misalnya suatu ketika dia datang ke kamar Nikita lalu menulis di kertas: "daripada berantem mendingan main basket".

Atau tanpa ditanya dia mengemukakan fakta-fakta tentang basket. "Pokoknya hal yang enggak nyambung sering dia tanyakan atau ungkapkan. Mungkin memang begitu cara dia meredam emosi saya. Ya, ngapain juga diladeni, tapi anak autis biasanya jujur. Kalau rutinitas jangan ditanya, Oscar tiada duanya, benar-benar super!" tandasnya tentang sang kakak yang kini berada di Singapura.

Gina, gadis berusia 15 tahun mengungkapkan pengalaman berbeda. Resya, adik Gina yang baru berusia 5 tahun juga mengalami gangguan autistik.

"Mama yang bilang ke aku waktu Resya umur 3 tahun. Sampai sekarang adikku itu belum bisa ngomong, paling-paling menyebut mama dan papa. Kalau memilih baju sendiri di lemari dia bisa, lalu minta dipakaikan. Kami juga suka main bola dan berenang seminggu sekali," ungkapnya.

Dengan penuturan yang agak terbata-bata, Gina mengungkapkan rasa sedih dan "pengingkaran" dalam dirinya ketika tahu sang adik "berbeda". Pikirnya, masih banyak orang yang jauh lebih sabar untuk menerima cobaan itu.

"Tapi ternyata Tuhan sudah menitipi kami, jadi aku juga berlatih untuk lebih sabar. Untungnya, sebelumnya di sekolahku juga banyak anak autis, jadi enggak aneh lagi," ungkap sulung dari 3 bersaudara itu.

"Aku berusaha ngertiin Resya dan mengajak dia main lebih sering dari Fauzan, adik keduaku. Kadang kalau enggak sesuai keinginan atau frustrasi, Resya suka memukul-mukul atau menangis. Harapanku sekarang, Resya bisa ngomong dulu," katanya.

Bukan Pengganti Orangtua


Sebagai orangtua yang punya anak berkebutuhan khusus (ABK), perhatian dan kerja keras biasanya lebih tercurah ke ABK tersebut. Akibatnya, saudara kandung si autis jadi terlupakan. Adilkah?

"ABK memang butuh perhatian ekstra, tapi saudara kandungnya juga perlu diperhatikan," tandas pakar gangguan autistik, DR Adriana S Ginanjar MS

0 komentar: