Senin, 07 Desember 2009

Tragedi Sepasang Sepatu

Di TK Baiturahman Karawang sabtu pagi.


Di serambi sebuah kelas, Ibong sedang bersusah payah memakai sepatu boot warna merah-biru miliknya ke kaki kanannya. Cukup lama. Bu Irma, salah satu guru di TK itu lewat dan mendekati Ibong untuk membantu mengenakan sepatu. Seperti halnya Ibong, bu Irma dengan susah payah berusaha memasukkan kaki Ibong ke dalam sepatu. Menarik dan mendorong, juga menggeser sedikit demi sedikit akhirnya bu Irma berhasil memasangkan sepatu di kaki kanan Ibong. Kerudung bu Irma yang bagian atas basah oleh keringatnya. Kini, ia berusaha memasangkan sepatu yang kiri. Sama susahnya.

“Bu Irma, sepatu Ibong terbalik!” kata Ibong, setelah bu Irma selesai memasangkan sepatu kiri.

Bu Irma pun melepas kedua sepatu dari kaki mungil Ibong. Seperti masuknya tadi, keluarnya pun susah. Keringat makin bercucuran dari leher dan dahi bu Irma. Ia tidak mengira sama sekali, begitu sulitnya melepas sepatu. Ia terus berusaha supaya dalam proses pelepasan sepatu tadi tidak menyakiti kaki Ibong.

“Alhamdulillah, akhirnya terlepas juga,” gumam bu Irma. Ia pun segera memasangkan kembali sepatu-sepatu itu pada posisinya yang benar. Masih tetap dengan usaha keras, tentu saja.

Ketika hampir selesai terpasang semua, dengan polos Ibong berkata, “Ini bukan sepatu Ibong!” Bu Irma mengambil napas dalam-dalam untuk membuang rasa jengkelnya dan dengan sisa kesabarannya ia kembali melepas sepatu-sepatu itu. Anak-anak lain mulai mengerubungi tempat itu. Kondisi semacam inilah yang membuat bu Irma berusaha keras tetap sabar dan tetap bisa menyunggingkan senyum di hadapan anak didiknya.

Untuk mengurangi rasa pegal di badannya, bu Irma berdiri sejenak. Ia benar-benar kelelahan memasang-melepas sepatu Ibong. Sebetulnya, dari dalam hatinya ia sangat mendongkol.

“Ibong sayang, kenapa tidak bilang dari tadi sih? Lalu, ini sepatu milik siapa?” mata bu Irma menyapukan pandangan kepada anak-anak yang ada di sekitar tempat itu sambil menenteng sepatu boot itu. Semua diam.

“Itu sepatu adik saya bu. Tadi pagi mama menyuruh Ibong memakai sepatu itu ke sekolah,” jawab Ibong.

Bu Irma hampir saja berteriak, tapi segera saja ia sadari bahwa ia harus menjaga sikap. Di hati kecilnya, ia merasa geli. Kemudian ia kembali memasangkan sepatu yang kekecilan tadi ke kaki Ibong. Dengan usaha yang sangat keras, tentu saja.

Selesai sudah siksaan pagi itu. Kedua sepatu telah terpasang di kedua kaki Ibong. Ia hapus peluh di wajahnya, sambil menatap sepatu merah-biru milik Ibong. Ia terperanjat, menyadari ada yang janggal di kaki Ibong. Ya, Ibong tidak memakai kaos kaki.

“Sayang, ke mana kaos kakimu?” dengan sisa kesabarannya ia bertanya.

“Ibong sumpalkan ke dalam sepatu ini, bu!” jawab Ibong, tanpa merasa bersalah.

Dan bu Irma pun langsung terduduk lemas di selasar kelas. Entah, apa yang ada dalam hati dan fikirannya saat itu : kecewa, sedih, bingung, marah, atau malah tertawa terbahak-bahak?

Pernahkah Anda menghadapi situasi seperti yang bu Irma alami?

0 komentar: